Tampilkan postingan dengan label SAP Stisipol C. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAP Stisipol C. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Oktober 2009

SAP Bahasa Jurnalistik

Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Candradimuka Palembang

Satuan Acara Perkuliahan (SAP)

Mata Kuliah : Bahasa Jurnalistik
Semester/Kelas : V (Lima)/ Khusus-Reguler
Jurusan : Ilmu Komunikasi
Jenjang : S1 (Strata 1)
Dosen : Muhamad Nasir, S.Pd
A. Dekripsi Mata Kuliah

Membahas bahasa Jurnalistik sebagai alat komunikasi dalam media massa, ruang lingkup bahasa jurnalistik, karakteristik bahasa jurnalistik, kata-kata mubazir dalam jurnalistik, pedoman pemakaian bahasa Indonesia yang sesuai dengan ciri media massa, latihan analisis karya-karya jurnalistik dilihat dari ejaan yang disempurnakan (EYD).
B.Pengalaman Belajar

Proses perkuliahan dikembangkan dalam bentuk komunikasi dua arah antara dosen mahasiswa melalui kegiatan ceramah, tanya jawab, diskusi dan kelas. Guna menunjang pemahaman terhadap materi perkuliahan, mahasiswa di minta untuk mencari informasi terbaru, baik melalui buku teks, jurnal, artikel, maupun internet.

C. Evaluasi Hasil Belajar

Komponen evaluasi perkuliahan meliputi: nilai ujian tengah semester, ujian akhir semester, partisipasi kegiatan kelas, presensi, serta pembuatan dan penyajian makalah.

D. Pokok Bahasan Setiap Pertemuan

Pertemuan ke-1

Perkenalan dan penyampaian silabus: 1. Pengertian Bahasa Jurnalistik, 2. Alasan Penggunaan Bahasa Jurnalistik, 3. Posisi Bahasa Jurnalistik, 5. Penyimpangan Bahasa Jurnalistik, 6. Kebijakan Redaksional & Style Book, 7. Ujian Tengah Semester, 8. Karakteristik Bahasa Jurnalistik, 9. Prinsip Penulisan Bahasa Jurnalistik, 10. Pemakaian Kata, Kalimat dan Alinea, 11. Kata-Kata Mubazir dalam Jurnalistik, 12. Bahasa Jurnalistik Cetak/Online, 13. Bahasa Jurnalistik Radio/TV, 14. Analisis Penggunaan Bahasa Jurnalistik dalam Karya Jurnalistik.


Pertemuan ke-2

Pengertian Bahasa Jurnalistik
Membahas pengertian bahasa jurnalistik. Bahasa Jurnalistik adalah gaya bahasa yang digunakan oleh wartawan dalam menulis berita. Disebut juga bahasa komunikasi massa (Language of Mass Communication, disebut pula News Paper Language).
Ciri Utama Bahasa Jurnalistik: Komunikatif artinya langsung ke pokok persoalan (straight to the point) dan spesifik artinya mempunyai gaya penulisan tersendiri.

Pertemuan ke-3

Alasan Penggunaan Bahasa Jurnalistik
Membahas alasan penggunaan bahasa jurnalistik. Ada tiga faktor: 1) Karena keterbatasan ruang dan waktu. Media dibatasi oleh kolom, sedangkan Online dibatasi oleh waktu. 2) Kepentingan pembaca. 3) Dalam rangka penyesuaian gaya bahasa, bahasanya mudah dimengerti oleh publik.

Pertemuan ke-4

Posisi Bahasa Jurnalistik
Membahas posisi bahasa jurnalistik. Secara umum posisi bahasa jurnalistik itu strategis.
Secara khusus, bahasa jurnalistik menjadi bahasa khusus sehingga bisa digunakan di segala bidang. Bahasa Jurnalistik bisa menjadi laboratorium bahasa juga referensi dalam hal penggunaan bahasa keseluruhan sehingga menjadi trend setter Bahasa jurnalistik subsistem dari Bahasa Indonesia.

Pertemuan ke-5

Penyimpangan Bahasa Jurnalistik
Membahas daftar 100 kata yang sering salah eja
Diantaranya: Aktif = aktip, aktivitas = aktifitas, analisis = analisa, apotek = apotik, izin = ijin, ijazah =, ijasah, foto = photo, imbau = himbau, indera = indraasas = azas dll.

Terdapat beberapa penyimpangan bahasa jurnalistik dibandingkan dengan kaidah bahasa Indonesia baku:
1) Penyimpangan morfologis. Penyimpangan ini sering terjadi dijumpai pada judul berita surat kabar yang memakai kalimat aktif, yaitu pemakaian kata kerja tidak baku dengan penghilangan afiks. Afiks pada kata kerja yang berupa prefiks atau awalan dihilangkan. Kita sering menemukan judul berita misalnya, Polisi Tembak Mati Lima Perampok Nasabah Bank. Israel Tembak Pesawat Mata-mata. Amerika Bom Lagi Kota Bagdad.
2) Kesalahan sintaksis. Kesalahan berupa pemakaian tatabahasa atau struktur kalimat yang kurang benar sehingga sering mengacaukan pengertian. Hal ini disebabkan logika yang kurang bagus. Contoh: Kerajinan Kasongan Banyak Diekspor Hasilnya ke Amerika Serikat. Seharusnya Judul tersebut diubah Hasil Kerajinan Desa Kasongan Banyak Diekspor ke Amerika. Kasus serupa sering dijumpai baik di koran lokal maupun koran nasional.
3) Kesalahan kosakata. Kesalahan ini sering dilakukan dengan alasan kesopanan (eufemisme) atau meminimalkan dampak buruk pemberitaan. Contoh: Penculikan Mahasiswa Oleh Oknum Kopasus itu Merupakan Pil Pahit bagi ABRI. Seharusnya kata Pil Pahit diganti kejahatan. Dalam konflik Dayak- Madura, jelas bahwa yang bertikai adalah Dayak dan Madura, tetapi wartawan tidak menunjuk kedua etnis secara eksplisit. Bahkan di era rezim Soeharto banyak sekali kosakata yang diekspose merupakan kosakata yang menekan seperti GPK, subversif, aktor intelektual, ekstrim kiri, ekstrim kanan, golongan frustrasi, golongan anti pembangunan, dan lain-lain. Bahkan di era kebebasan pers seperti sekarang ini, kecenderungan pemakaian kosakata yang bisa mengandung makna semakin banyak.
4) Kesalahan ejaan. Kesalahan ini hampir setiap kali dijumpai dalam surat kabar. Kesalahan ejaan juga terjadi dalam penulisan kata, seperti: Jumat ditulis Jum’at, khawatir ditulis hawatir, jadwal ditulis jadwal, sinkron ditulis singkron, dll.
Meskipun bahasa jurnalistik itu disebut sebagai ragam tersendiri, tentu tetap mengacu pada kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia.


Pertemuan ke-6
Kebijakan Redaksional & Style Book

Pertemuan ke-7 Ujian Tengah Semester

Pertemuan ke-8

Karakteristik Bahasa Jurnalistik
Bahasa jurnalistik tidak meninggalkan kaidah yang dimiliki oleh ragam bahasa Indonesia baku dalam hal pemakaian kosakata, struktur sintaksis dan wacana. Karena berbagai keterbatasan yang dimiliki surat kabar (ruang, waktu) maka bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Kosakata yang digunakan dalam bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan bahasa.

Pertemuan ke-9

Prinsip Penulisan Bahasa Jurnalistik
Beberapa prinsip dalam penggunaan bahasa jurnalistik:
1) Singkat, artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele.

2) Padat, artinya bahasa jurnalistik yang singkat itu sudah mampu menyampaikan informasi yang lengkap. Semua yang diperlukan pembaca sudah tertampung di dalamnya. Menerapkan prinsip 5 W + 1 H, membuang kata-kata mubazir dan menerapkan ekonomi kata.

3) Sederhana, artinya bahasa pers sedapat-dapatnya memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks. Kalimat yang efektif, praktis, sederhana pemakaian kalimatnya, tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis)

4) Lugas, artinya bahasa jurnalistik mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga .

5) Menarik, artinya dengan menggunakan pilihan kata yang masih hidup, tumbuh, dan berkembang. Menghindari kata-kata yang sudah mati.

6) Jelas, artinya informasi yang disampaikan jurnalis dengan mudah dapat dipahami oleh khalayak umum (pembaca). Struktur kalimatnya tidak menimbulkan penyimpangan atau pengertian makna yang berbeda, menghindari ungkapan bersayap atau bermakna ganda (ambigu). Oleh karena itu, seyogyanya bahasa jurnalistik menggunakan kata-kata yang bermakna denotatif. Namun seringkali kita masih menjumpai judul berita: Tim Ferrari Berhasil Mengatasi Rally Neraka Paris-Dakar. Jago Merah Melahap Mall Termewah di Kawasan Jakarta. Polisi Mengamankan Oknum Pemerkosa dari Penghakiman Massa.

Pertemuan ke-10

Pemakaian kata, kalimat, dan alinea. Membahas EYD dalam bahasa jurnalistik.

A. Penulisan huruf kapital
- Jabatan tidak di ikuti nama orang
- Huruf pertama nama bangsa
- Nama geografi sebagai nama jenis
- Setiap unsur bentuk ulang sempurna
- Penulisan kata depan dan kata sambung

B. Penulisan huruf miring
- Penulisan nama buku
- Penulisan penegasan kata
- Penulisan kata nama ilmiah

C.Penulisan kata turunan
- Gabungan kata dapat awalan dan akhiran
- Gabungan kata dalam kombinasi

D.Penulisan gabungan kata
- Penulisan gabungan kata istilah khusus
- Penulisan gabungan kata serangkai

E. Penulisan partikel
- Penulisan partikel pun
- Penulisan partikel per

F. Penulisan singkatan
- Penulisan singkatan 3 huruf
- Penulisan singkatan mata uang

G. Penulisan akronim
- Akronim nama diri
- Akronim bukan nama diri

H. Penulisan angka
Penulisan lambang bilangan
- Penulisan lambang bilangan satu dua kata
- Penulisan lambang bilangan awal kalimat
- Penulisan lambang bilangan utuh
- Penulisan lambang bilangan angka huruf

Pertemuan ke-11

Kata-Kata Mubazir dalam Jurnalistik
Latihan membuat kalimat bahasa Jurnalistik seperti :
- Semakin menjadi makin
- Kurang lebih menjadi sekitar
- Kemudian menjadi lalu
- Andaikan menjadi andai
- Apabila menjadi jika

Pertemuan ke-12

Bahasa Jurnalistik Cetak/Online

Pertemuan ke-13
Bahasa Jurnalistik Radio/TV

Pertemuan ke-14

Analisis Penggunaan Bahasa Jurnalistik dalam Karya Jurnalistik

E. Alokasi: 14 kali pertemuan






F. Sumber:

Alamudi, Abdullah. 1991. Peranan Media Massa. Terjemahan dari The Role of Media. Jakarta: USIS.
Anwar, Rosihan. 1991. Bahasa Jurnalistik dan Komposisi. Jakarta: Pradnya Paramita.
Anderson, Benedick ROG. 1966. Bahasa Politik Indonesia. Indonesia I, April : hal 89-116.

Asegaf, Dja’far H. 1982. Jurnalistik Masa Kini: Pengantar ke Prakti Kewartawanan. Jakarta: Ghalia Indonesia
Badudu, J.S. 1988. Cakrawala Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Oetama, Jacob. 1987. Perspektif Pers Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Moehamad, Gunawan. 1997. Bahasa Jurnalistik. Jakarta: Tempo.
Sudaryanto. 1995. Bahasa Jurnalistik dan Pengajaran Bahasa Indonesia. Semarang: Citra Almamater.

Tarigan, Djago dan Lilis Sulistyaningsih. 1997. Analisis Kesalahan Berbahasa. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Palembang, 30 September 2009
Dosen Pengasuh,


Muhamad Nasir, S.Pd.

SAP Pengantar Psikologi

Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Candradimuka Palembang


Satuan Acara Perkuliahan (SAP)

Mata Kuliah : Pengantar Psikologi
Semester : 1 (Satu)
Jurusan : Ilmu Komunikasi
Jenjang : S1 (Strata 1)
Dosen : Muhamad Nasir, S.Pd

A.Dekripsi Mata Kuliah

Mata kuliah ini menyajikan pembahasan tentang analisis psikologi terhadap kemampuan dasar manusia, dinamika perilaku individu, konsep perkembangan, konsep kepribadian, konsep belajar, serta aplikasinya dalam memahami tingkah laku individu.

B.Pengalaman Belajar

Proses perkuliahan dikembangkan dalam bentuk komunikasi dua arah antara dosen mahasiswa melalui kegiatan ceramah, tanya jawab, diskusi dan kelas. Guna menunjang pemahaman terhadap materi perkuliahan, mahasiswa di minta untuk mencari informasi terbaru, baik melalui buku teks, jurnal, artikel, maupun internet.

C. Evaluasi Hasil Belajar

Komponen evaluasi perkuliahan meliputi: nilai ujian tengah semester, ujian akhir semester, partisipasi kegiatan kelas, presensi, serta pembuatan dan penyajian makalah.

D. Pokok Bahasan Setiap Pertemuan

Pertemuan ke-1

Orientasi perkuliahan dan perkenalan. Kegiatan ini berisi diskusi tentang tujuan, ruang lingkup, prosedur perkuliahan, sistem penugasan, sistem penilaian, dan dalam batas tertentu mengakomo-dasi masukan dari mahasiswa untuk perbaikan silabus.

Pertemuan ke-2.

Konsep dasar psikologi dan perilaku, (a) pengertian psikologi, menurut asal katanya psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu psyche dan logos. Psyche berarti jiwa, sukma, dan roh, sedangkan logos berati ilmu pengetahuan atau studi. Jadi pengertian psikologi secara harfiah adalah ilmu tentang jiwa. Woodworth dan Marquis mengemukakan “psychology is the scientific study of the individual activities in relation to environment” Istilah psikologi digunakan pertama kali oleh seorang ahli berkebangsaan Jerman yang bernama Philip Melancchton pada tahun 1530, (b) Psikologi sebagai ilmu, istilah psikologi sebagai ilmu jiwa tidak digunakan lagi sejak tahun 1878 (yang dipelopori oleh J.B.Watson) sebagai ilmu yang mempelajari perilaku karena ilmu pengetahuan menghendaki objek dapat diamati, dicatat, dan diukur; jiwa dipandang terlalu abstrak, dan jiwa hanya¬lah salah satu aspek kehidupan individu.

Psikologi dapat disebut sebagai ilmu yang mandiri karena memenuhi syarat berikut: 1) secara sistematis psikologi dipelajari melalui penelitian-penelitian ilmiah dengan menggunakan metode ilmiah, 2) memiliki struktur keilmuan yang jelas, 3) memiliki objek formal dan material, 4) menggunakan metode ilmiah seperti eksperimen, observasi, sejarah kasus (case history), pengetesan dan pengukuran (testing and measurement), 5) memiliki terminilogi khusus seperti bakat, motivasi, inteligensi, kepribadian, 6) dan dapat diaplikasikan dalam berbagai adegan kehidupan.

Pertemuan ke-3

Kaitan psikologi dengan ilmu lain, psikologi dalam perkembangannya banyak dipengaruhi ilmu-ilmu lain misalnya filsafat, sosiologi, fisiologi, antropologi, biologi. Pengaruh ilmu tersebut terhadap psikologi dapat dalam bentuk landasan epistimologi dan metode yang digunakan. Psikologi memberikan sumbangan terhadap pendidikan, karena subjek dan objek pendidikan adalah manusia (individu), psikologi memberikan wawasan bagaimana memahami perilaku individu dan proses pendidikan serta bagaimana membantu individu agar dapat berkembang optimal.

Pertemuan ke-4

Konsep dasar perilaku: a) pengertian perilaku, perilaku adalah segenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, mulai dari perilaku yang paling nampak sampai yang tidak tampak, dari yang dirasakan sampai yang paling tidak dirasakan. b) pandangan tentang perilaku, ada lima pendekatan utama tentang perilaku yaitu: (1) pendekatan neurobiologik, pendekatan ini menitikberatkan pada hubungan antara perilaku dengan kejadian yang berlangsung dalam tubuh (otak dan saraf) karena perilaku diatur oleh kegiatan otak dan sistem saraf, (2) pendekatan behavioristik, pendekatan ini menitikberatkan pada perilaku yang nampak, perilaku dapat dibentuk dengan pembiasan dan pengu¬kuhan melalui pengkondisian stimulus, (3) pendekatan kognitif, menurut pendekatan ini individu tidak hanya menerima stimulus yang pasif tetapi mengolah stimulus menjadi perilaku yang baru, (4) pandangan psiko¬analisis, menurut pandangan ini perilaku individu didorong oleh insting bawaan dan sebagian besar perilaku itu tidak disadari, (5) pandangan humanistik, perilaku individu bertujuan yang ditentukan oleh aspek internal individu. Individu mampu mengarahkan perilaku dan memberikan warna pada lingkungan.

Pertemuan ke-5

Jenis-jenis perilaku individu, a) perilaku sadar, perilaku yang melalui kerja otak dan pusat susunan saraf, b) perilaku tak sadar, perilaku yang spontan atau instingtif, c) perilaku tampak dan tidak tampak, d) perilaku sederhana dan kompleks, e) perilaku kognitif, afektif, konatif, dan psikomotor. Mekanisme perilaku, (1) dalam pandangan behavioristik, mekanisme perilaku individu adalah:

W ------ S ------ r ------ O ------ e ------ R ------W

Keterangan : W = world (lingkungan) e = effector
S = stimulus R = respon
r = receptor W = lingkungan
O = organisme
(2) dalam pandangan humanistik, perilaku merupakan siklus dari: (i) dorongan timbul, (ii) aktivitas dilakukan, (iii) tujuan dihayati, (iv) kebutuhan terpenuhi/rasa puas.

Pertemuan ke-6

Dinamika perilaku individu, ditentukan dan dipengaruhi oleh:
a) Pengamatan atau penginderaan (sensation), adalah proses belajar mengenal segala sesuatu yang berada di lingkungan sekitar dengan menggunakan alat indera penglihatan (mata), pendengaran (telinga), pengecap (lidah), pembau (hidung), dan perabaan (kulit, termasuk otot).

b) Persepsi (perception), adalah menafsirkan stimulus yang telah ada di otak atau pengertian individu tentang situasi atau pengalaman. Ciri umum persepsi terkait dengan dimensi ruang dan waktu, terstruktur, menye¬luruh, dan penuh arti. Persepsi bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh perhatian selek¬tif, ciri-ciri rangsangan, nilai dan kebutuhan individu, serta penga¬laman.

c) Berpikir (reasoning), adalah aktivitas yang bersifat ideasional untuk menemukan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Berpikir ber¬tujuan untuk mem¬bentuk pengertian, mem¬bentuk pendapat, dan menarik kesimpulan. Proses berpikir kreatif terdiri dari: persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Jenis berpikir ada dua, yaitu berpikir tingkat rendah dan tingkat tinggi.

Pertemuan ke-7: Ujian Tengah Semester

Pertemuan ke-8

Lanjutan dinamika perilaku individu, d) Inteligensi, dapat diartikan sebagai (i) kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir rasional, (ii) kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru, (iii) kemampuan memecahkan simbol-simbol tertentu. Inteligensi tidak sama dengan IQ karena IQ hanya rasio yang diperoleh dengan menggunakan tes tertentu yang tidak atau belum tentu menggambarkan kemampuan individu yang lebih kompleks. Teori tentang inteligensi diantaranya G-Theory (general theory) dan S-Theory (specific theory). Inteligensi dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan. e) Sikap (Attitude), adalah evaluasi positif-negatif-ambivalen individu terhadap objek, peristiwa, orang, atau ide tertentu. Sikap merupakan perasaan, keyakinan, dan kecenderungan perilaku yang relatif menetap. Unsur-unsur sikap meliputi kognisi, afeksi, dan kecenderungan bertindak. Faktor-faktor yang mem¬pengaruhi terbentukanya sikap adalah penga¬laman khusus, komunikasi dengan orang lain, adanya model, iklan dan opini, lembaga-lembaga sosial dan lembaga keagamaan.

Pertemuan ke-9

Konsep dasar motif dan motivasi, a) Motif (motive) adalah keadaan kompleks dalam diri individu yang mengarahkan perilaku pada satu tujuan atau insentif, atau faktor penggerak perilaku, atau konstruk teoritik ten¬tang terjadinya perilaku. Motif dapat dikelompokkan menjadi primer (dorongan fisiologis, dorongan umum) dan sekunder. Woodwort dan Marquis me¬nge¬lompokkan motif menjadi tiga, yaitu motif organis, motif darurat, dan motif obyektif. Indikator motif terdiri atas: durasi, frekuensi, persistensi, devosi, ketabahan, aspirasi, kualifikasi prestasi, dan sikap. Upaya untuk meningkatkan motivasi diantaranya menciptakan situasi kompetisi yang sehat, membuat tujuan antara, menginformasikan tujuan dengan jelas, memberikan ganjaran, dan tersedianya kesempatan untuk sukses.

b) Konflik (conflict), terjadi ketika ada dua atau lebih motif yang saling bertentangan sehingga individu berada dalam situasi petentangan batin, kebingungan, dan keragu-raguan. Jenis konflik dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) approach-approach conflict, (2) avoidance-avoidance conflict, dan (3) approach-avoidance conflict.

c) Frustrasi (frustration) adalah suatu keadaan kecewa dalam diri individu yang disebabkan oleh tidak tercapainya kepuasan atau tujuan. Sumber frustrasi menurut Sarlito Wirawan adalah lingkungan, pribadi, dan frustrasi konflik. Bentuk reaksi individu terhadap frustrasi adalah marah, bertindak secara ekplosif, introversi, merasa tidak berdaya, regresi, fiksasi, represi, pembentukan reaksi, rasionalisasi, proyeksi, kompensasi, dan sublimasi.

Pertemuan ke-10

Konsep perkembangan individu, a) perkembangan (development) adalah proses perubahan yang dialamai individu menuju tingkat kedewasaan yang berlangsung secara sistematis, progresif, berkesinambungan, integratif baik fisik maupun mental; b) pertumbuhan (growth) adalah perubahan secara kuantitatif pada aspek jasmani yang terkait dengan perubahan ukuran; c) kematangan (maturity) adalah titik kulminasi dari suatu fase dan sebagai titik tolak dari kesiapan aspek tertentu men¬jalankan fungsinya.



Pertemuan ke-11

Lanjutan konsep dasar perkembangan individu, a) perkembangan merupakan hasil pertumbuhan, kematangan, dan belajar. Perkembangan menganut prinsip-prinsip berikut ini. 1) perkembangan berlangsung se¬pan¬jang hayat, 2) ada perbedaan irama dan tempo perkembangan, 3) dalam batas tertentu perkembangan dapat dipercepat, 4) perkembangan dipengaruhi oleh faktor bawaan, lingkungan, dan kematangan, 5) untuk aspek tertentu perkembangan wanita lebih cepat daripada pria, 6) individu yang normal mengalami semua fase perkembangan.

b) Fase perkembangan secara umum adalah 1) masa prenatal, 2) masa bayi, 3) masa anak, 4) masa remaja, 5) masa dewasa, dan 6) masa tua.

c) Aspek perkembangan terdiri dari perkembangan kognitif, sosial, bahasa, moral, emosi, fisik, dan penghayatan keagamaan.

Pertemuan ke-12

Konsep dasar kepribadian, a) pengertian kepribadian, istilah ke¬pribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris “personality”. Secara etimologis, kata personality berasal dari bahasa latin “persona” yang berarti topeng. Menurut Gordon W Allport “personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical system, that determines his unique adjusment to his environment”,
b) Faktor yang mempengaruhi kepribadian adalah pembawaan dan pengalaman (umum dan khusus).

Pertemuan ke-13

Lanjutan konsep dasar kepribadian, a) meskipun kepribadian itu unik tetapi ada beberapa ahli yang berusaha menggolongkan kepribadian, misalnya Hipocrates dan Gelanus yang membagi tipologi kepribadian menjadi empat tipe yaitu: 1) kholeris, 2) melankolis, 3) plagmatis, dan sanguinis. Kretschmer meninjau tipologi kepribadian berdasarkan segi konstitusi dan temparamen. Berdasarkan konstitusi jasmani manusia digolongkan menjadi tipe piknis, leptosom, atletis dan displatis. Sedangkan berdasarkan temperamen kejiwaan, manusia digolongkan menjadi schizophrenia dan depresif. Berdasarkan orientasi nilai, Spranger mengemukakan enam tipologi manusia, yaitu tipe teoritik, ekonomi, estetis, agama, moral, dan kekuasaan.

b) Pengukuran kepribadian dapat ditempuh dengan cara observasi, inventori, dan teknik proyektif.

Pertemuan ke-14

Konsep dasar belajar, a) Pengertian belajar, Cronbach mengartikan “learning is shown by an change individual behaviour as a result of experiences”. Belajar juga dapat diartikan sebagai “proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh sesuatu yang baru sebagai hasil dari pengalaman. Ciri perubahan perilaku hasil belajar adalah aktif, positif, dan berorientasi tujuan.

b) Prinsip-prinsip belajar, beberapa perinsip belajar adalah 1) memiliki tujuan dan disadari, 2) adanya penerimaan informasi, 3) terjadinya proses internalisasi, dan 4) perubahan bersifat relatif permanent.

c) Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, faktor di luar individu yang mempengaruhi belajar adalah faktor non-sosial dan faktor sosial. Sedangkan faktor dalam diri individu yang mempengaruhi belajar adalah faktor fisiologis dan psikologis.

E. Alokasi: 14 kali pertemuan

F. Sumber: Daftar Literatur

Dember, William N., et al. 1984. General Pychology. Ney Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers.

Yusuf, Syamsu. 2002. Pengantar Teori Kepribadian. Bandung: Publikasi PPB FIP UPI.

Yusuf, Syamsu. 2002. Pengantar Psikologi. Bandung: Publikasi PPB FIP UPI.

Makmun, Abin S. 1999. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda¬karya.

Dimyati. 1990. Psikologi, suatu pengantar. Yogyakarta: FIP IKIP.

Suryabrata, Sumadi. 1982. Perkembangan Individu. Jakarta: CV. Rajawali.

Walgito, Bimo. 1982. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Fak Psikologi UGM.

Faisal, Sanapiah., dan Mapiare, Andi. 1989. Dimensi-Dimensi Psikologi Sosial. Jakarta: CV. Rajawali.

Prayitno. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta: P2LPTK.

Mar’at. 1982. Sikap Manusia, Perubahan dan Pengukurannya. Indonesia: Ghalia.

Palembang, 30 September 2009

Dosen Pengasuh,



Muhamad Nasir, S.Pd