Sabtu, 03 Oktober 2009

SAP Pengantar Psikologi

Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Candradimuka Palembang


Satuan Acara Perkuliahan (SAP)

Mata Kuliah : Pengantar Psikologi
Semester : 1 (Satu)
Jurusan : Ilmu Komunikasi
Jenjang : S1 (Strata 1)
Dosen : Muhamad Nasir, S.Pd

A.Dekripsi Mata Kuliah

Mata kuliah ini menyajikan pembahasan tentang analisis psikologi terhadap kemampuan dasar manusia, dinamika perilaku individu, konsep perkembangan, konsep kepribadian, konsep belajar, serta aplikasinya dalam memahami tingkah laku individu.

B.Pengalaman Belajar

Proses perkuliahan dikembangkan dalam bentuk komunikasi dua arah antara dosen mahasiswa melalui kegiatan ceramah, tanya jawab, diskusi dan kelas. Guna menunjang pemahaman terhadap materi perkuliahan, mahasiswa di minta untuk mencari informasi terbaru, baik melalui buku teks, jurnal, artikel, maupun internet.

C. Evaluasi Hasil Belajar

Komponen evaluasi perkuliahan meliputi: nilai ujian tengah semester, ujian akhir semester, partisipasi kegiatan kelas, presensi, serta pembuatan dan penyajian makalah.

D. Pokok Bahasan Setiap Pertemuan

Pertemuan ke-1

Orientasi perkuliahan dan perkenalan. Kegiatan ini berisi diskusi tentang tujuan, ruang lingkup, prosedur perkuliahan, sistem penugasan, sistem penilaian, dan dalam batas tertentu mengakomo-dasi masukan dari mahasiswa untuk perbaikan silabus.

Pertemuan ke-2.

Konsep dasar psikologi dan perilaku, (a) pengertian psikologi, menurut asal katanya psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu psyche dan logos. Psyche berarti jiwa, sukma, dan roh, sedangkan logos berati ilmu pengetahuan atau studi. Jadi pengertian psikologi secara harfiah adalah ilmu tentang jiwa. Woodworth dan Marquis mengemukakan “psychology is the scientific study of the individual activities in relation to environment” Istilah psikologi digunakan pertama kali oleh seorang ahli berkebangsaan Jerman yang bernama Philip Melancchton pada tahun 1530, (b) Psikologi sebagai ilmu, istilah psikologi sebagai ilmu jiwa tidak digunakan lagi sejak tahun 1878 (yang dipelopori oleh J.B.Watson) sebagai ilmu yang mempelajari perilaku karena ilmu pengetahuan menghendaki objek dapat diamati, dicatat, dan diukur; jiwa dipandang terlalu abstrak, dan jiwa hanya¬lah salah satu aspek kehidupan individu.

Psikologi dapat disebut sebagai ilmu yang mandiri karena memenuhi syarat berikut: 1) secara sistematis psikologi dipelajari melalui penelitian-penelitian ilmiah dengan menggunakan metode ilmiah, 2) memiliki struktur keilmuan yang jelas, 3) memiliki objek formal dan material, 4) menggunakan metode ilmiah seperti eksperimen, observasi, sejarah kasus (case history), pengetesan dan pengukuran (testing and measurement), 5) memiliki terminilogi khusus seperti bakat, motivasi, inteligensi, kepribadian, 6) dan dapat diaplikasikan dalam berbagai adegan kehidupan.

Pertemuan ke-3

Kaitan psikologi dengan ilmu lain, psikologi dalam perkembangannya banyak dipengaruhi ilmu-ilmu lain misalnya filsafat, sosiologi, fisiologi, antropologi, biologi. Pengaruh ilmu tersebut terhadap psikologi dapat dalam bentuk landasan epistimologi dan metode yang digunakan. Psikologi memberikan sumbangan terhadap pendidikan, karena subjek dan objek pendidikan adalah manusia (individu), psikologi memberikan wawasan bagaimana memahami perilaku individu dan proses pendidikan serta bagaimana membantu individu agar dapat berkembang optimal.

Pertemuan ke-4

Konsep dasar perilaku: a) pengertian perilaku, perilaku adalah segenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, mulai dari perilaku yang paling nampak sampai yang tidak tampak, dari yang dirasakan sampai yang paling tidak dirasakan. b) pandangan tentang perilaku, ada lima pendekatan utama tentang perilaku yaitu: (1) pendekatan neurobiologik, pendekatan ini menitikberatkan pada hubungan antara perilaku dengan kejadian yang berlangsung dalam tubuh (otak dan saraf) karena perilaku diatur oleh kegiatan otak dan sistem saraf, (2) pendekatan behavioristik, pendekatan ini menitikberatkan pada perilaku yang nampak, perilaku dapat dibentuk dengan pembiasan dan pengu¬kuhan melalui pengkondisian stimulus, (3) pendekatan kognitif, menurut pendekatan ini individu tidak hanya menerima stimulus yang pasif tetapi mengolah stimulus menjadi perilaku yang baru, (4) pandangan psiko¬analisis, menurut pandangan ini perilaku individu didorong oleh insting bawaan dan sebagian besar perilaku itu tidak disadari, (5) pandangan humanistik, perilaku individu bertujuan yang ditentukan oleh aspek internal individu. Individu mampu mengarahkan perilaku dan memberikan warna pada lingkungan.

Pertemuan ke-5

Jenis-jenis perilaku individu, a) perilaku sadar, perilaku yang melalui kerja otak dan pusat susunan saraf, b) perilaku tak sadar, perilaku yang spontan atau instingtif, c) perilaku tampak dan tidak tampak, d) perilaku sederhana dan kompleks, e) perilaku kognitif, afektif, konatif, dan psikomotor. Mekanisme perilaku, (1) dalam pandangan behavioristik, mekanisme perilaku individu adalah:

W ------ S ------ r ------ O ------ e ------ R ------W

Keterangan : W = world (lingkungan) e = effector
S = stimulus R = respon
r = receptor W = lingkungan
O = organisme
(2) dalam pandangan humanistik, perilaku merupakan siklus dari: (i) dorongan timbul, (ii) aktivitas dilakukan, (iii) tujuan dihayati, (iv) kebutuhan terpenuhi/rasa puas.

Pertemuan ke-6

Dinamika perilaku individu, ditentukan dan dipengaruhi oleh:
a) Pengamatan atau penginderaan (sensation), adalah proses belajar mengenal segala sesuatu yang berada di lingkungan sekitar dengan menggunakan alat indera penglihatan (mata), pendengaran (telinga), pengecap (lidah), pembau (hidung), dan perabaan (kulit, termasuk otot).

b) Persepsi (perception), adalah menafsirkan stimulus yang telah ada di otak atau pengertian individu tentang situasi atau pengalaman. Ciri umum persepsi terkait dengan dimensi ruang dan waktu, terstruktur, menye¬luruh, dan penuh arti. Persepsi bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh perhatian selek¬tif, ciri-ciri rangsangan, nilai dan kebutuhan individu, serta penga¬laman.

c) Berpikir (reasoning), adalah aktivitas yang bersifat ideasional untuk menemukan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Berpikir ber¬tujuan untuk mem¬bentuk pengertian, mem¬bentuk pendapat, dan menarik kesimpulan. Proses berpikir kreatif terdiri dari: persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Jenis berpikir ada dua, yaitu berpikir tingkat rendah dan tingkat tinggi.

Pertemuan ke-7: Ujian Tengah Semester

Pertemuan ke-8

Lanjutan dinamika perilaku individu, d) Inteligensi, dapat diartikan sebagai (i) kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir rasional, (ii) kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru, (iii) kemampuan memecahkan simbol-simbol tertentu. Inteligensi tidak sama dengan IQ karena IQ hanya rasio yang diperoleh dengan menggunakan tes tertentu yang tidak atau belum tentu menggambarkan kemampuan individu yang lebih kompleks. Teori tentang inteligensi diantaranya G-Theory (general theory) dan S-Theory (specific theory). Inteligensi dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan. e) Sikap (Attitude), adalah evaluasi positif-negatif-ambivalen individu terhadap objek, peristiwa, orang, atau ide tertentu. Sikap merupakan perasaan, keyakinan, dan kecenderungan perilaku yang relatif menetap. Unsur-unsur sikap meliputi kognisi, afeksi, dan kecenderungan bertindak. Faktor-faktor yang mem¬pengaruhi terbentukanya sikap adalah penga¬laman khusus, komunikasi dengan orang lain, adanya model, iklan dan opini, lembaga-lembaga sosial dan lembaga keagamaan.

Pertemuan ke-9

Konsep dasar motif dan motivasi, a) Motif (motive) adalah keadaan kompleks dalam diri individu yang mengarahkan perilaku pada satu tujuan atau insentif, atau faktor penggerak perilaku, atau konstruk teoritik ten¬tang terjadinya perilaku. Motif dapat dikelompokkan menjadi primer (dorongan fisiologis, dorongan umum) dan sekunder. Woodwort dan Marquis me¬nge¬lompokkan motif menjadi tiga, yaitu motif organis, motif darurat, dan motif obyektif. Indikator motif terdiri atas: durasi, frekuensi, persistensi, devosi, ketabahan, aspirasi, kualifikasi prestasi, dan sikap. Upaya untuk meningkatkan motivasi diantaranya menciptakan situasi kompetisi yang sehat, membuat tujuan antara, menginformasikan tujuan dengan jelas, memberikan ganjaran, dan tersedianya kesempatan untuk sukses.

b) Konflik (conflict), terjadi ketika ada dua atau lebih motif yang saling bertentangan sehingga individu berada dalam situasi petentangan batin, kebingungan, dan keragu-raguan. Jenis konflik dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) approach-approach conflict, (2) avoidance-avoidance conflict, dan (3) approach-avoidance conflict.

c) Frustrasi (frustration) adalah suatu keadaan kecewa dalam diri individu yang disebabkan oleh tidak tercapainya kepuasan atau tujuan. Sumber frustrasi menurut Sarlito Wirawan adalah lingkungan, pribadi, dan frustrasi konflik. Bentuk reaksi individu terhadap frustrasi adalah marah, bertindak secara ekplosif, introversi, merasa tidak berdaya, regresi, fiksasi, represi, pembentukan reaksi, rasionalisasi, proyeksi, kompensasi, dan sublimasi.

Pertemuan ke-10

Konsep perkembangan individu, a) perkembangan (development) adalah proses perubahan yang dialamai individu menuju tingkat kedewasaan yang berlangsung secara sistematis, progresif, berkesinambungan, integratif baik fisik maupun mental; b) pertumbuhan (growth) adalah perubahan secara kuantitatif pada aspek jasmani yang terkait dengan perubahan ukuran; c) kematangan (maturity) adalah titik kulminasi dari suatu fase dan sebagai titik tolak dari kesiapan aspek tertentu men¬jalankan fungsinya.



Pertemuan ke-11

Lanjutan konsep dasar perkembangan individu, a) perkembangan merupakan hasil pertumbuhan, kematangan, dan belajar. Perkembangan menganut prinsip-prinsip berikut ini. 1) perkembangan berlangsung se¬pan¬jang hayat, 2) ada perbedaan irama dan tempo perkembangan, 3) dalam batas tertentu perkembangan dapat dipercepat, 4) perkembangan dipengaruhi oleh faktor bawaan, lingkungan, dan kematangan, 5) untuk aspek tertentu perkembangan wanita lebih cepat daripada pria, 6) individu yang normal mengalami semua fase perkembangan.

b) Fase perkembangan secara umum adalah 1) masa prenatal, 2) masa bayi, 3) masa anak, 4) masa remaja, 5) masa dewasa, dan 6) masa tua.

c) Aspek perkembangan terdiri dari perkembangan kognitif, sosial, bahasa, moral, emosi, fisik, dan penghayatan keagamaan.

Pertemuan ke-12

Konsep dasar kepribadian, a) pengertian kepribadian, istilah ke¬pribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris “personality”. Secara etimologis, kata personality berasal dari bahasa latin “persona” yang berarti topeng. Menurut Gordon W Allport “personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical system, that determines his unique adjusment to his environment”,
b) Faktor yang mempengaruhi kepribadian adalah pembawaan dan pengalaman (umum dan khusus).

Pertemuan ke-13

Lanjutan konsep dasar kepribadian, a) meskipun kepribadian itu unik tetapi ada beberapa ahli yang berusaha menggolongkan kepribadian, misalnya Hipocrates dan Gelanus yang membagi tipologi kepribadian menjadi empat tipe yaitu: 1) kholeris, 2) melankolis, 3) plagmatis, dan sanguinis. Kretschmer meninjau tipologi kepribadian berdasarkan segi konstitusi dan temparamen. Berdasarkan konstitusi jasmani manusia digolongkan menjadi tipe piknis, leptosom, atletis dan displatis. Sedangkan berdasarkan temperamen kejiwaan, manusia digolongkan menjadi schizophrenia dan depresif. Berdasarkan orientasi nilai, Spranger mengemukakan enam tipologi manusia, yaitu tipe teoritik, ekonomi, estetis, agama, moral, dan kekuasaan.

b) Pengukuran kepribadian dapat ditempuh dengan cara observasi, inventori, dan teknik proyektif.

Pertemuan ke-14

Konsep dasar belajar, a) Pengertian belajar, Cronbach mengartikan “learning is shown by an change individual behaviour as a result of experiences”. Belajar juga dapat diartikan sebagai “proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh sesuatu yang baru sebagai hasil dari pengalaman. Ciri perubahan perilaku hasil belajar adalah aktif, positif, dan berorientasi tujuan.

b) Prinsip-prinsip belajar, beberapa perinsip belajar adalah 1) memiliki tujuan dan disadari, 2) adanya penerimaan informasi, 3) terjadinya proses internalisasi, dan 4) perubahan bersifat relatif permanent.

c) Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, faktor di luar individu yang mempengaruhi belajar adalah faktor non-sosial dan faktor sosial. Sedangkan faktor dalam diri individu yang mempengaruhi belajar adalah faktor fisiologis dan psikologis.

E. Alokasi: 14 kali pertemuan

F. Sumber: Daftar Literatur

Dember, William N., et al. 1984. General Pychology. Ney Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers.

Yusuf, Syamsu. 2002. Pengantar Teori Kepribadian. Bandung: Publikasi PPB FIP UPI.

Yusuf, Syamsu. 2002. Pengantar Psikologi. Bandung: Publikasi PPB FIP UPI.

Makmun, Abin S. 1999. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda¬karya.

Dimyati. 1990. Psikologi, suatu pengantar. Yogyakarta: FIP IKIP.

Suryabrata, Sumadi. 1982. Perkembangan Individu. Jakarta: CV. Rajawali.

Walgito, Bimo. 1982. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Fak Psikologi UGM.

Faisal, Sanapiah., dan Mapiare, Andi. 1989. Dimensi-Dimensi Psikologi Sosial. Jakarta: CV. Rajawali.

Prayitno. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta: P2LPTK.

Mar’at. 1982. Sikap Manusia, Perubahan dan Pengukurannya. Indonesia: Ghalia.

Palembang, 30 September 2009

Dosen Pengasuh,



Muhamad Nasir, S.Pd

Sinar Harapan

http://www.sinarharapan.co.id/about-sinarharapancom/

LINTAS SEJARAH SINAR HARAPAN
Sinar Harapan terbit perdana pada tanggal 27 April 1961. Tokoh – tokoh yang terlibat dalam upaya pendirian Sinar Harapan adalah : Dr. Komang Makes; Lengkong; Ds. Roesman Moeljodwiatmoko; Simon Toreh; Prof. Dr. Soedarmo; J.B. Andries; Dr. J. Leimena; Supardi; Ds. Soesilo; Ds. Saroempaet; Soehardhi; Ds.S. Marantika; Darius Marpaung; Prof. Ds. J.L.Ch. Abineno; J.C.T. Simorangkir SH; Ds. W.J. Rumambi; H.G. Rorimpandey; Sahelangi; A.R.S.D. Ratulangi; Dra. Ny. B. Simorangkir
Pada awal pendirian, H.G. Rorimpandey dipercaya sebagai Pemimpin Umum, sedangkan Ketua Dewan Direksi adalah J.C.T Simorangkir dan Pelaksana Harian adalah Soehardhi.
Pada awalnya (27 April 1961), oplah Sinar Harapan hanya sekitar 7.500 eksemplar. Namun pada akhir tahun 1961, oplahnya melonjak menjadi 25.000 eksemplar. Seiring dengan perkembangan waktu, Sinar Harapan terus berkembang menjadi koran nasional terkemuka serta dikenal sebagai “raja koran sore”. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1985 Sinar Harapan telah terbit dengan oplah sekitar 250.000 eksemplar. Jumlah karyawan yang semula (tahun 1961) sekitar 28 orang telah membengkak menjadi sekitar 451 orang (tahun 1986).
Berbagai penghargaan telah diterima Sinar Harapan. Penghargaan tersebut antara lain Sinar Harapan mendapatkan tropi Adinegoro dari PWI pada tahun 1975, 1976 dan 1979 untuk penulisan terbaik, yaitu untuk wartawan Subekti, Panda Nababan dan Yuyu A.N Mandagie. Tahun 1976 Tajuk Rencana Sinar Harapan mendapat penghargaan Kalam Kencana dari Departemen Penerangan. Tahun 1982, Bernadus Sendouw meraih tropi Adinegoro bidang foto. Tahun 1983 memborong 5 tropi Adinegoro bidang P4 (Suryanto Kodrat), karikatur (Pramono), foto (Indra Rondonuwu), luar negeri (Samuel Pardede) dan Tajuk Rencana. Tahun 1984 meraih 2 tropi Adinegoro untuk Tajuk Rencana dan karikatur (Pramono). Tahun 1985 meraih 4 tropi Adinegoro, yaitu 2 buah untuk foto (Tinnes Sanger dan Bernadus Sendouw), dan 2 buah untuk karikatur (Pramono dan Thomas Lionar). Tahun 1986 Sinar Harapan meraih juara I sebagai surat kabar Ibukota yang unggul dalam pemberitaan mengenai pembangunan DKI Jakarta bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan selama tahun 1985.
Motto Sinar Harapan adalah “Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan, Kebenaran dan Perdamaian berdasarkan Kasih” yang dijalankan secara konsisten oleh pengelola Sinar Harapan. Konsekuensi dari konsistensi jajaran Sinar Harapan menjalankan motto, maka Sinar Harapan harus mengalami beberapa kali pembredelan oleh pemerintah.
Pada tanggal 2 Oktober 1965, Sinar Harapan dibreidel supaya peristiwa G 30 S-PKI tidak diekspos secara bebas oleh media. Hanya media-media tertentu saja yang boleh terbit. Pada tanggal 8 Oktober 1965 Sinar Harapan diperbolehkan kembali terbit. Pada bulan Juli 1970 pemerintah Orba menyorot pemberitaan Sinar Harapan yang mengekspos laporan Komisi IV mengenai korupsi. Pemerintah menganggap Sinar Harapan telah melanggar kode etik pers karena mendahului Presiden karena laporan Komisi IV tersebut baru akan dibacakan Presiden pada tanggal 16 agustus 1970. Namun beberapa pihak justru memuji Sinar Harapan yang unggul dalam news getting. Dalam kasus ini, Dewan Kehormatan PWI menyimpulkan bahwa belum melihat cukup alasan untuk mengatakan telah terjadi pelanggaran kode etik pers oleh Sinar Harapan. Pada bulan Januari 1972 kembali Sinar Harapan berurusan dengan Dewan Kehormatan Pers karena pemberitaan tanggal 31 Desember 1971 dengan judul tulisan “Presiden larang menteri-menteri beri fasilitas pada proyek Mini”. Tanggal 2 Januari 1973 Pangkokamtib mencabut sementara Surat Ijin Cetak Sinar Harapan berkaitan dengan pemberitaan RAPBN dengan judul “Anggaran ‘73-’74 Rp. 826 milyard”. Pada tanggal 12 Januari 1973 Sinar Harapan diperbolehkan terbit kembali. Terkait dengan peristiwa “Malari” 1974, kembali sejumlah media dibreidel, termasuk Sinar Harapan. Tanggal 20 Januari 1978 pukul 20.21 Sinar Harapan melalui telepon diperintahkan tidak terbit untuk esok harinya oleh Pendam V Jaya. Hal tersebut kemungkinan karena Sinar Harapan dan beberapa media lain memberitakan kegiatan mahasiswa yang dianggap dapat memanaskan situasi politik. Tanggal 4 Februari 1978 Sinar Harapan diperbolehkan terbit kembali. Dan yang paling memukul adalah pembatalan SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan) oleh pemerintah Soeharto pada pada bulan Oktober 1986 akibat Sinar Harapan memuat head line “Pemerintah Akan Cabut 44 SK Tata Niaga Bidang Impor”. Breidel ini mengakibatkan 15 tahun lamanya Sinar Harapan dipaksa tidak boleh terbit.
Pada era Reformasi, kebebasan pers mulai diperlonggar. Sinar Harapan diterbitkan kembali pada tanggal 02 Juli 2001 oleh H.G. Rorimpandey dan Aristides Katoppo di bawah naungan PT. Sinar Harapan Persada. Meskipun telah 14 tahun “dikubur”, kebangkitan kembali Sinar Harapan tetap mendapat respon positif dari berbagai pihak, baik dari kalangan elit pemerintah, elit politik, pelaku bisnis, kaum profesional, biro iklan sampai agen koran. Berbagai penghargaan jurnalistik juga kembali telah diterima beberapa wartawan Sinar Harapan.
H. G. Rorimpandey dan Terbit Kembalinya Sinar Harapan
”Saya masih ingat ketika hari terakhir koran ini ditutup,” ujar Rorimpandey mengenang kembali peristiwa lama. Waktu itu hari Kamis siang, tanggal 9 Oktober tahun 1986.
”Saya terima pemberitahuan lewat telepon dari Dirjen PPG Sukarno SH , supaya Sinar Harapan pada esok hari 9 Oktober tidak terbit lagi,” ujar Pak Rorim dengan suara lirih. ”Saya sama sekali tak menduga dan tak percaya bahwa itu penutupan koran untuk selama-lamanya.”
Yang menjadi sebab koran sore ini ditutup, gara-gara judul berita yang dimuat dalam headline di halaman satu yang dibuat oleh wartawan dengan kode M-5 dengan judul ”Pemerintah Akan Cabut 44 SK Tata Niaga Bidang Impor”. Tentu ini hanya pemicu, karena Presiden Soeharto sudah lama menandai koran ini karena kritik-kritiknya.

Ada pertanyaan apakah pencabutan 44 SK itu akan memukul bisnis keluarga cendana dan konconya? Ini tidak diketahui. Tetapi yang jelas keputusan Pemerintah tersebut menjadikan dunia perdagangan tidak lagi melemahkan monopoli .
Belakangan diketahui 44 SK tersebut masih konsep. Rupanya menteri ingin mendapatkan feed back. Bahan berita dibagikan kepada wartawan tanpa berpikir dan menduga perbuatan ini akan menyebabkan perdagangan menjadi stagnan atau mandeg. Dan lebih sial lagi menyebabkan Harian Sore ”Sinar Harapan” ditutup .

Dalam alam pers yang serba dibatasi waktu itu, apakah kebijaksanaan yang dijalankan oleh Sinar Harapan ? ”Saya dan pimpinan sudah menerima policy yang tegas. Semua berita yang mengkritik Pemerintah khusus Soeharto dibolehkan,” ujar Rorimpandey. Bagaimana kalau ada risiko ? ”Risiko itu kita terima,” kata Pak Rorim.
Inilah bentuk dari keberanian sikap Pers independen yang dijalankan oleh ”Sinar Harapan”. Karena berani mengkritik, maka Sinar Harapan ditutup.
Banyak langkah yang diupayakan supaya koran ini bisa terbit lagi. Bukankah penutupan koran memberi dampak yang luas? Ribuan karyawan kehilangan mata pecaharian, demikian pula puluhan ribu agen dengan keluarganya.
Satu ketika pimpinan Sinar Harapan berkirim surat kepada Presiden Soeharto . Tetapi hasilnya nihil. Sedangkan sikap perusahaan jelas, bagaimana mencari jalan keluar agar PT Sinar Kasih tidak dibubarkan dan karyawan tidak di PHK.
Dari hasil rapat dewan komisaris PT Sinar Kasih, Sinar Agape Pres, dan Sitra diperoleh dua kemungkinan yang bisa dihadapi. Pertama adakan penerbitan baru karena “SH” tidak boleh terbit lagi. Berdasarkan pemikiran itu berkembang pembicaraan, usahakan SIUPP yang baru. Rorimpandey dan TB Simatupang satu pendapat.

Pemikiran kedua, mencoba memenuhi undangan Sudwikatmono. Pembicaraan berlangsung malam hari jam 11.00 di rumah kediaman konglomerat ini di kawasan Permata Hijau.
Sudwikatmono yang didampingi mitra kerjanya Soetrisno berkata : “SH boleh terbit kembali, Pak Rorim tetap pimpinan umum, asal sebagian saham kami miliki”.
Mendengar pernyataan ini, Rorimpandey terdiam. Kemudian ia menunjuk presiden komisaris Soedarjo. Soedarjo menjawab: Ya kami menerima.Tapi kami tanya Pak Rorim”.

Sewaktu ditanya Rorimpandey berbeda pendapat: “Saya menolak. Alasan saya, Pak Dwi, tak bisa saya mengajak anda untuk membagi deviden atau bersama dalam mengambil satu keputusan penting dan kita bersama berdoa. Saya takut mengajak Bapak. Tapi silahkan tanya pada komisaris yang lain, direksi dan pemegang saham. Saya tidak punya saham terbesar di sini.”
Pembicaraan dengan Sudwikatmono ini, pada satu pagi disampaikan kepada Drs. Radius Prawiro dalam kesempatan sarapan pagi di rumahnya. Radius kemudian melakukan pengecekan. Dan hasilnya ternyata Pak Harto tidak setuju “Sinar Harapan” hidup lagi.
Pengecekan juga dilakukan oleh Rorimpandey melalui keponakannya Dirut PT Garuda Indonesia, Lumenta. Lumenta yang menjadi kawan akrab Ka Bakin Benny Moerdani: “Coba tanya Benny, bagaimana komentarnya?” ”Kalau mau terbitkan koran baru cobalah. Tapi saya tak punya harapan bahwa itu bisa diterbitkan. Jual es teler sajalah. Atau mereka juga bisa mulai dengan asembling mobil, ya apa saja,“ ujar Benny sebagaimana ditirukan Lumenta.
Hari ini Senin , 2 Juli 2001, Harian Sore “Sinar Harapan” resmi diterbitkan kembali setelah menjalani masa tidur panjang, persisnya 14 tahun, tujuh bulan, tiga minggu, 3 hari. “Saya orang yang paling senang, paling gembira. Saya suruh Nico (Nico Sompotan) dan Bara (Baradita Katoppo) mempersiapkan untuk terbitkan kembali koran ini. Saya sangat berterimakasih kepada Aristides Katoppo mau jadi Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi. Apalagi Peter sudah dipanggil bergabung, lalu lain-lainnya.
Terimakasih juga buat semua yang kerja keras untuk memulai kembali, teman-teman lama redaksi, agen-agen, dan orang-orang iklan serta semua yang telah membantu,“ ujar H.G.Rorimpandey yang kini sudah berusia 79 tahun. Berdarah Kawanua, lahir di Palu (Sulawesi Tengah), memulai karier di masa revolusi sebagai perwira yang ikut mendirikan Siliwangi.
Dalam dunia pers ia pernah menjadi Ketua Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS).
Sebagai tokoh pers ia yang melahirkan istilah industri pers, setelah melihat kenyataan bahwa usaha pers telah berkembang menjadi bisnis yang melibatkan banyak sektor.
H. G. Rorimpandey
CORPORATE PROFILE
Sinar Harapan diterbitkan kembali pada tanggal 02 Juli 2001 oleh H.G. Rorimpandey dan Aristides Katoppo di bawah naungan PT. Sinar Harapan Persada. Meskipun telah 14 tahun “dikubur”, kebangkitan kembali Sinar Harapan tetap mendapat respon positif dari berbagai pihak, baik dari kalangan elit pemerintah, elit politik, pelaku bisnis, kaum profesional, biro iklan sampai agen koran. Berbagai penghargaan jurnalistik juga kembali telah diterima beberapa wartawan Sinar Harapan.
Visi and Misi
Melanjutkan visi dan misi terdahulu :
• Visi : Menyajikan liputan dan laporan yang adil, akurat, berimbang, aktual dan faktual melalui jurnalisme damai.
• Misi : “Memperjuangkan Kemerdekaan, Keadilan, Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih”
Kepemilikan
Sampai dengan akhir tahun 2007 jumlah total modal disetor PT. Sinar Harapan Persada sebesar Rp. 59 milyar dimana 83,2% sahamnya dimiliki oleh PT. Cahaya Pelangi Persada, 8,4% sahamnya dimiliki oleh Ny. Martha HG. Rorimpandey dan 8,4% sahamnya dimiliki oleh Aristides Katoppo.
Manajemen
Manajemen Sinar Harapan merupakan kombinasi dari berbagai latar belakang pengalaman dan ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham.
Susunan pengurus PT. Sinar Harapan Persada saat ini adalah :
Dewan Komisaris
Komisaris Utama : Aristides Kattopo; Wakil Komisaris Utama : Karel Patipeilohy; Komisaris : Insa Martha Rorimpandey; Matheus Rukmasaleh Arief
Dewan Direksi
Direktur Utama : Susanto Sjahir; Direktur : Christine Widjaja; Veronica Fausta; Daud Sinjal; Edward Hariandja